Jarak.
Kenapa harus berjarak.
Kenapa butuh jarak.
Kenapa memberi jarak.
Aku frustasi.
Jarak.
Kenapa harus berjarak.
Kenapa butuh jarak.
Kenapa memberi jarak.
Aku frustasi.
I really hate I when people say
“Men shouldn’t call women fat”
“Men shouldn’t abuse women”
“Men shouldn’t rape women”
“Men shouldn’t be sexist”When really it should be
“Nobody should call anybody fat”
“Nobody should abuse anybody”
“Nobody should rape anybody”
“Nobody should be sexist”Stop blaming men for everything
(via getting-fit-staying-fab)
(via healthier-habits)
“Wah kamu nggak bisa duduk di situ, itu cuma cukup buat satu orang! Badan kamu kan diitung DUA! Hahahahahaha”
Sering dengar candaan seperti itu terhadap orang gemuk? Atau mungkin kalian biasa menyebutnya gendut, gembrot, gembul, tambun atau mengasosiasikannya dengan binatang bertubuh besar seperti gajah, kudanil, beruang, atau panda?
Mungkin memang kalian tidak pernah merasa atau menjadi seseorang yang bertubuh gemuk. Kalian tidak tahu bahwa, ada setitik rasa sakit di hati orang gemuk saat mendengar candaan seperti tadi. Walaupun seringnya orang gemuk itupun ikut tertawa.
Siapa yang salah? Wah pertanyaan ini terlalu sebab akibat. Kalau saya boleh sok tahu, mungkin saya tahu beberapa sebab yaitu:
1. Kurang pekanya seseorang terhadap isu-isu terkait orang-orang gemuk
2. Konstruksi media yang seolah menjustifikasi bentuk tubuh idaman yang akhirnya “diterima” oleh masyakarat secara umum
3. “Penerimaan”(baca:akhirnya terpaksa menerima) dari orang-orang gemuk sendiri bahwa mereka memang bisa dibuat bahan tertawaan
Tiga hal di atas adalah sekelumit penyebab yang menurut saya kenapa candaan tentang orang gemuk itu bisa dianggap lumrah.
Rasa sakit seperti apa sih yang mungkin dirasakan oleh orang gemuk yang dijadikan bahan candaan?
Rasa sakit yang terjadi adalah rasa sakit hati yang memunculkan banyak pertanyaan yang condong menjadi amarah dan penyesalan. Memunculkan pertanyaan -pertanyaan seperti: Apa jadi gemuk itu salah? Apa jadi gemuk itu benar-benar pilihan saya? Apakah mereka tahu saya tidak pernah menginginkan bentuk tubuh seperti ini? Apakah mereka tahu sudah berapa banyak metode diet dan olah raga yang sudah saya jalani? Apakah mereka tahu bahwa saya rela mati demi tubuh kurus? dan masih banyak lagi.
Berlebihan? Saya rasa tidak karena itu yang benar-benar saya rasakan pada saat seseorang menjadikan tubuh saya sebagai bahan candaan dan ejekan.
Tugas saya dan orang-orang gemuk lainnya di dunia adalah sama dengan tugas orang-orang “normal” lainnya yaitu menjalani amanat hidup dari Tuhan dengan sebaik-baiknya. Jadi, tolong, jangan mendiskriminasi kami dengan berbagai candaan kalian yang TIDAK LUCU sama sekali bagi kami.
Kami ingin tampil di tv tanpa ejekan dan olok-olok para pelawak. Kami punya suara yang merdu yang tidak harus menyuruh kami menjadi kurus untuk menikmati suara kami. Kami ingin tampil di media cetak bukan hanya iklan pelangsing sebagai contoh “sebelum”. Kami juga punya hati bersih dan lembut yang walaupun terselubung di balik tumpukan lemak tapi juga bisa merasakan sakit. Kami cantik/ganteng dan indah seperti kalian karena kami juga manusia, sama seperti kalian.
So please… be more sensitive…
Minggu, 10:18 di kasur Pinguin
Anak perempuan itu bersama pria dewasa.
Iya mereka bersama, menikah? Tentu saja.
Anak perempuan itu masih anak-anak kataku. Iya baru 18 tahun. Tau apa dia?
Tapi tak begitu kenyataannya. Anak perempuan itu memang sudah saatnya. Menikah.
Aku saja yang bodoh. Dia tau segalanya. Cuma dia yang tau sayangnya. Aku hanya menebak saja.
Ah sudahlah. usil saja!
:) Sweet.
Curvy Pin-Up illustrations for Jen Oaks 2012 calendar titled “Cheeky” which you can purchase at her Etsy store. She also has a tumblr.
true true true!!!
(Source: magical-colorful, via sr8olguin)
Suatu hari saya sedang duduk di kursi sebuah cafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saat itu saya sedang menunggu teman lama saya yang sudah lama tidak bertemu. Saya datang setengah jam lebih cepat. Buat saya, menunggu lebih baik daripada ditunggu.
Waiter pun datang membawa hot china tea pesanan saya. Tak berapa lama, datang lah dua orang asing yang kemudian duduk di dekat meja saya. Kalau dari logatnya sih, sepertinya mereka orang Inggris. Saya sesekali menoleh ke arah pintu masuk restoran, siapa tau teman saya juga sudah datang, tapi tak nampak sedikit pun sosoknya. Saya lanjut menyeruput teh cina di hadapan saya. Sembari menunggu, saya pun iseng membaca majalah gratis yang disediakan oleh restoran tersebut.
Tak berapa lama, mulailah si orang asing ini mengobrol. Jangan salahkan saya jika curi dengar karena jarak duduknya sangat dekat jadi memang terdengar jelas sekali pembicaraan mereka. Mereka membicarakan tentang perasaan mereka terhadap perlakuan orang Indonesia yang katanya tidak adil. Saya langsung makin penasaran dan kembali meneruskan curi dengar saya. Ternyata mereka sangat kesal ketika mereka mencoba mempraktekan bahasa Indonesia mereka sehari-hari tapi mereka sering ditertawakan. Bahkan tak jarang mereka sering “dikerjai” dengan diajari bahasa-bahasa tidak sopan. Apalagi semakin banyak tayangan-tayangan tv yang menampilkan orang-orang asing dan dijadikan bahan lawakan. Mereka merasa bahwa, mereka betul-betul ingin belajar bahasa dan budaya Indonesia tapi tidak didukung dengan sikap orang-orang Indonesia itu sendiri. Mereka merasa sudah berusaha keras belajar bahasa Indonesia, tapi malah ditertawakan dan tidak dihargai sama sekali.
Mendengar pembicaraan mereka itu, saya rasanya gatal sekali ingin angkat bicara. Setidaknya sedikit meluruskan pemikiran mereka. Pertama, mereka sudah salah dengan menggeneralisir orang Indonesia. Kedua, mengenai acara di tv itu mereka tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang Indonesia karena dengan “sesama” nya itu tampil di tv, otomatis kan itu atas persetujuan kedua belah pihak. Jika mereka tidak suka, pihak tv juga pasti tidak akan menayangkannya. Ketiga, untuk orang Indonesia yang suka menertawakan orang asing, saya rasa itu simply because they think that foreigner is always better than them, so when she/he makes mistake, they laugh. Atau juga mereka merasa terheran-heran kenapa susah sekali bagi orang asing ini untuk melafalkan huruf R dengan jelas, misalnya. Dengan kata lain, come on dudes, they think that you guys are unique, not because of they think that you’re freak or some kind of aliens, they simply adore you, you know! Alasan-alasan sederhana semacam itu yang sebenarnya saya yakin ada dipikiran orang Indonesia yang tertawa itu. Dan terakhir, saya rasanya ingin bilang kalau kami ini bangsa yang ramah dan masih penuh dengan orang-orang berpikiran positif. Jadi, tolong, jangan hina bangsa kami dengan asumsi-asumsi kalian yang negatif itu.
Sayang nya pemikiran saya itu tak sempat saya utarakan karena saya menghargai pendapat mereka. Saya juga sadar, tidak ada kapasitas saya untuk bersuara karena saya juga sudah mencuri dengar :). Saya bukan orang Indonesia yang “kepo” dan seenaknya ikut campur urusan orang. Saya orang Indonesia yang punya dan tau etika sopan santun mereka.
Tak lama, teman saya pun datang. Jadi kegiatan curi dengar pun saya hentikan :).

I’ve always wanted my future husband would say such things like this… :)
(Source: the--personal--quotes, via sr8olguin)

(Source: ohbabyitsnatalie, via sr8olguin)