Icalito The Broadddway

Find the new me...

0 notes

Budaya Siapa? Salah Siapa?

Suatu hari saya sedang duduk di kursi sebuah cafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saat itu saya sedang menunggu teman lama saya yang sudah lama tidak bertemu. Saya datang setengah jam lebih cepat. Buat saya, menunggu lebih baik daripada ditunggu. 

Waiter pun datang membawa hot china tea pesanan saya. Tak berapa lama, datang lah dua orang asing yang kemudian duduk di dekat meja saya. Kalau dari logatnya sih, sepertinya mereka orang Inggris. Saya sesekali menoleh ke arah pintu masuk restoran, siapa tau teman saya juga sudah datang, tapi tak nampak sedikit pun sosoknya. Saya lanjut menyeruput teh cina di hadapan saya. Sembari menunggu, saya pun iseng membaca majalah gratis yang disediakan oleh restoran tersebut.

Tak berapa lama, mulailah si orang asing ini mengobrol. Jangan salahkan saya jika curi dengar karena jarak duduknya sangat dekat jadi memang terdengar jelas sekali pembicaraan mereka. Mereka membicarakan tentang perasaan mereka terhadap perlakuan orang Indonesia yang katanya tidak adil. Saya langsung makin penasaran dan kembali meneruskan curi dengar saya. Ternyata mereka sangat kesal ketika mereka mencoba mempraktekan bahasa Indonesia mereka sehari-hari tapi mereka sering ditertawakan. Bahkan tak jarang mereka sering “dikerjai” dengan diajari bahasa-bahasa tidak sopan. Apalagi semakin banyak tayangan-tayangan tv yang menampilkan orang-orang asing dan dijadikan bahan lawakan. Mereka merasa bahwa, mereka betul-betul ingin belajar bahasa dan budaya Indonesia tapi tidak didukung dengan sikap orang-orang Indonesia itu sendiri. Mereka merasa sudah berusaha keras belajar bahasa Indonesia, tapi malah ditertawakan dan tidak dihargai sama sekali.

Mendengar pembicaraan mereka itu, saya rasanya gatal sekali ingin angkat bicara. Setidaknya sedikit meluruskan pemikiran mereka. Pertama, mereka sudah salah dengan menggeneralisir orang Indonesia. Kedua, mengenai acara di tv itu mereka tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang Indonesia karena dengan “sesama” nya itu tampil di tv, otomatis kan itu atas persetujuan kedua belah pihak. Jika mereka tidak suka, pihak tv juga pasti tidak akan menayangkannya. Ketiga, untuk orang Indonesia yang suka menertawakan orang asing, saya rasa itu simply because they think that foreigner is always better than them, so when she/he makes mistake, they laugh. Atau juga mereka merasa terheran-heran kenapa susah sekali bagi orang asing ini untuk melafalkan huruf R dengan jelas, misalnya. Dengan kata lain, come on dudes, they think that you guys are unique, not because of they think that you’re freak or some kind of aliens, they simply adore you, you know! Alasan-alasan sederhana semacam itu yang sebenarnya saya yakin ada dipikiran orang Indonesia yang tertawa itu. Dan terakhir, saya rasanya ingin bilang kalau kami ini bangsa yang ramah dan masih penuh dengan orang-orang berpikiran positif. Jadi, tolong, jangan hina bangsa kami dengan asumsi-asumsi kalian yang negatif itu.

Sayang nya pemikiran saya itu tak sempat saya utarakan karena saya menghargai pendapat mereka. Saya juga sadar, tidak ada kapasitas saya untuk bersuara karena saya juga sudah mencuri dengar :). Saya bukan orang Indonesia yang “kepo” dan seenaknya ikut campur urusan orang. Saya orang Indonesia yang punya dan tau etika sopan santun mereka. 

Tak lama, teman saya pun datang. Jadi kegiatan curi dengar pun saya hentikan :).

0 notes

Hello, well-formed Homo-sapien specimen. Would you care to depart with me towards my domiciliary residence and observe a documentary of the ontogenesis of another Homo-sapien individual just prior to fertilization?
my friend’s pick-up line (his name is Felix)

0 notes

Suatu cerita pagi yang tidak biasa tentang saya…

Hari ini, saya bangun seperti biasa, melakukan aktifitas pagi hari juga seperti biasanya… sampai saatnya saya berangkat menuju tempat kerja. Angkutan umum pertama berhasil membawa saya ke tempat biasa saya berhenti untuk menaiki kerndaraan umum selanjutnya agar bisa sampai ke tempat tujuan, ya, kantor. Ketika saya naik, bus yang saya naiki tidak begitu ramai sehingga saya bisa dengan bebas memilih tempat duduk yang saya mau. Kemudian duduklah di bangku kedua dari belakang dekat pintu keluar. Kursi tersebut dapat diisi oleh dua orang penumpang, saat itu saya masih sendiri. Sampai tida beberapa lama naiklah seorang laki-laki (tebakan saya dia berumur sekitar 24-26 tahun) dia mengambil tempat duduk persis di sebelah saya. Saya refleks melirik ke arah dia. Gaya rambut sedikit acak-acakan, tampangnya agak lusuh, memakai kalung rantai, bisa saya bilang lebih seperti stereotip preman yang melekat pada saya, namun saya bukan tipe orang yang suka menghakimi penampilan seseorang, oleh karena itu, saya berlaku biasa saja. Jalanan saat itu agak macet seperti biasanya karena banyaknya putaran balik dan lampu merah, jadi bus pun melaju perlahan. Sekitar 5 menit setelah laki-laki itu duduk di samping saya, dia kemudian melepaskan jaketnya yang berwarna abu. Saya kembali reflek melirik ke arahnya karena gerakannya menggaggu saya, dari situ saya tahu kalau tangannya bertato. Saya kembali tidak menghakiminya, namu bisa saya pastikan kalau tatonya itu tidak terlihat seperti hasil tato artist profesional, cukup berantakan, tapi saya tidak peduli, saya kembali mengarahkan pandangan saya ke arah jendela. Namun tidak berapa lama laki-laki itu menyelempangkan jaketnya di pergelangan tangannya. Saya sedikit terkejut karena saya suatu hari pernah melihat laki-laki yang menyelempangkan jaketnya di pergelangan tangannya persis seperti itu dan dia adalah seorang pencopet. Saat itu saya sudah merasa tidak nyaman. Saya memeluk tas saya erat, eraat sekali. Namun saya masih berusaha bersikap senormal mungkin supaya saya tidak menyinggungnya (karena saya tetap berpikir positif). Sampai saya perhatikan tangan kanannya bergerak di dalam jaketnya seolah sedang mengambil sesuatu, dan… samar-samar saya melihat benda mengkilat keluar dari balik jaketnya, benda itu bagi saya tidak asing, ya benda itu adalah pisau belati. Saat itulah saya benar-benar merasa terancam. Laki-laki itu menempelkan ujung belatinya ke arah perut saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan karena bagi saya, teriak adalah bukan pilihan yang tepat, mengingat, kulit perut saya sudah merasakan ujung belatinya. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bahwa saya harus tetap tenang, dan mencoba untuk tidak teriak. Laki-laki itu tidak berbicara apapun kepada saya, melihat saya pun tidak. Hati saya menjerit “Tuhan, jika saya harus mati dalam keadaan seperti ini, saya ingin kematian saya tidak sia-sia, Jika kau masih mengijinkan saya hidup, lindungilah saya, saya yakin Engkau adalah sebaik-baiknya tempat berlindung.” Tidak berapa lama terdengar suara seorang bapak memanggil penjahat itu sambil menepuk pundaknya, dia berkata, “De, tolong dong gantian tempat duduknya, di sini panas, saya sedang sakit”. Awalnya penjahat itu tidak menghiraukan bapak tersebut sampai kernet menyuruhnya untuk pindah dan dia pun berdiri, bapak tua tadi duduk di samping saya. Dia tidak tahu betapa saya ingin mengucapkan terima kasih kepadanya. Penjahat itu masih memandangi saya dengan tatapan yang cukup mengerikan bagi saya. Namun saya sudah tidak peduli, yang dipikiran saya adalah bagaimana caranya saya bisa cepat turun, namun ketika saya akan beranjak turun, ternyata bapa tadi sudah lebih dulu berinisiatif untuk turun. Penjahat tadi sempat menghalangi jalan si bapak tua dan saya untuk turun. Namun saya memaksa, sampai kaki saya sempat menendang kaki penjahat itu sehingga dia agak manjauh. Karena bus sedang melaju sangat perlahan, maka saya loncat keluar dari bus tersebut. Tanpa pikir panjang, saya pun berlari sejauh mungkin dan mencari tempat yang cukup ramai. Belum sempat saya berhenti, saya langsung terpikir untuk menaiki angkot yang lewat di depan saya. Entah kenapa, jalanan yang tadi sangat macet, tiba-tiba  lancar dan angkot yang saya naiki pun berlaju kencang. Saya berhenti di pinggir jalan yang agak jauh dari tempat saya di todong tadi, namun cukup dekat dekat lokasi kantor saya. Saya berjalan sambil kaki masih sangat bergetar dan jantung ini berdebar-debar. Tak lama teman kantor saya yang mengendarai motor memanggil dan mengajak saya untuk ikut, dan saya pun tiba di kantor dengan selamat.

Kejadian tadi cukup membuat saya sangat shock, bingung, lega, takut, bersyukur, rasanya sangat campur aduk. Namun yang pasti saya tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur saya kepada Tuhan. Saya merasa sangat dilindungi.

Bagi saya, bapak tua tadi adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk melindungi saya. Bagi saya, jalanan yang saya ingat betul sedang sangat macet itu tiba-tiba lancar seolah mobil-mobil tadi hilang begitu saja, itu merupakan suatu mukjizat.

Cerita ini memang tentang saya, tapi bukan hal biasa terjadi di pagi hari atau pun di waktu lainnya… dan memang BUKAN HAL YANG BIASA dan HARUSNYA tidak terjadi pada siapapun…